terlelap dalam kebisingan

 

– RUNTUH. Itu keadaan yang mungkin akan benar-benar terjadi pada Indonesia beberapa tahun ke depan, karena kehilangan generasi mudanya. Padahal, generasi muda adalah penerus estafet pembangungan yang akan menjadi potensi yang luar biasa bagi kemajuan bangsa. Dan sejahtera atau tidaknya suatu bangsa ditentukan dari bagaimana kualitas pemuda hari ini. Namun, berkaca pada fakta yang bertebaran di sekitar kita, kemungkinan runtuhnya bangsa ini semakin besar terjadi. Bak pohon bambu, untuk menuntaskan masalah ini adalah dengan membabat habis akar permasalahannya

Bulan Oktober di Indonesia sering dikaitkan dengan kebangkitan pemuda. Tak lain karena peristiwa historis tahun 1928 yakni sumpah pemuda, yang termasuk dalam titik awal proses panjang sejarah memperjuangkan kemerdekaan yang kemudian mencapai puncaknya pada 17 Agustus 1945. Setiap perubahan yang dimaksudkan untuk kemajuan, selalu saja ada peran pemuda dibaliknya. Pemuda selalu dikaitkan dengan mereka yang kritis, yang menjadi pelopor, energi yang paling dominan memperjuangkan perubahan menuju kemajuan.

Setelah melalui proses panjang, Indonesia dengan segudang keunggulan potensi alam dan jumlah masyarakatnya ke empat terbanyak di dunia. Cobalah kita tanya pendapat masyarakat tentang negeri ini, mulai dari penarik becak sampai insinyur bahkan pengusaha, semua menghasilkan satu suara, yakni keterpurukan negeri ini dan menginginkan perubahan. Wajar saja, telah dibawa kemana Indonesia selama 67 tahun terakhir ini? Permasalahan tak kunjung padam, mulai dari ekonomi termasuk harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, sosial termasuk kesenjangan yang tinggi, pendidikan yang sarat biaya, kesehatan mencangkup betapa sulitnya warga miskin untuk berobat, sampai perpolitikan yang malah dijadikan ajang jual-beli melalui suap dan korupsi, juga segudang masalah yang lain.

Semua ini cukup menjadi alasan, perlu sekali negeri ini akan perubahan, yang pasti perubahan mendasar sampai membabat habis akar permasalahan untuk mencapai kemajuan. Perubahan ini sulit dengan absennya peran pemuda. Masalahnya kini, pemuda di negeri ini kehilangan gaungnya, yang terdengar malah gema krisis moral yang melanda. Tawuran pelajar yang makin sering terjadi, salah satunya tawuran antar SMU 6 dan SMU 70 Jakarta yang sampai menjatuhkan korban jiwa pada 24 September lalu. Bahkan dikalangan mahasiswa pun sama, salah satunya tawuran mahasiswa Fakultas Teknik dengan Fakultas Seni dan Desain di Universitas Negeri Makassar, 11 Oktober lalu yang sampai merusakkan bahkan menghancurkan fasilitas dan gedung kampus.

Komnas Perlindungan Anak mencatat, semester satu tahun 2012 ini saja, sudah ditemukan 139 kasus tawuran pelajar. Belum juga masalah narkoba, hasil survei BNN menunjukkan prevalensi penyalahgunaan narkoba di lingkungan pelajar mencapai 4,7% dari jumlah pelajar dan mahasiswa, atau sekitar 921.629 orang. Kemudian masalah narkoba, di mana berdasarkan data Komnas Perlindungan Anak, dari 2,5 juta kasus aborsi, sebanyak 62,6 % dilakukan anak di bawah umur 18 tahun. Tiga fakta mengenai tawuran, narkoba dan seks bebas ini saja, merupakan bukti yang jelas betapa krisis moral kian melanda para pemuda, termasuk kalangan pelajar dan mahasiswa.

Pertanyaannya, bagaimana negeri ini bisa berubah, bisa maju, jika pemudanya krisis moral seperti ini? Padahal masa depan bangsa ada di pundak mereka. terlebih kalangan pelajar dan mahasiswa, di mana mereka ini sebagai kaum intelektual, yang seharusnya melalui pendidikan yang mereka terima, mereka dapat kritis dan paham mana yang benar atau salah, bukan sebaliknya. Nah, dapatlah ditarik kesimpulan, kaum intelektual ini berperilaku demikian karena ada yang salah dengan pendidikan yang mereka terima.

Selama ini banyak orang yang kurang tahu atau bahkan tidak tahu, bahwa Indonesia menjalankan sistem pendidikan yang berlandaskan sekulerisme. Ini sangat jelas terlihat dalam kurikulumnya, di mana pelajaran agama pada jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah hanya diberikan selama dua jam pelajaran per minggu, dan pada tingkat lanjut pun hanya diberikan muatan 4 SKS, di mana dalam 8 semester perkuliahan umum, hanya mahasiswa hanya mendapati 2 semester mata kuliah agama. Tentu tidak termasuk pendidikan lanjutan jurusan keagamaan. Padahal, sistem pendidikan hanyalah satu sub dari sistem negara ini, bersama-sama dengan sistem ekonomi, politik, sosial, budaya, pertahanan, dll. Sekulerisme merupakan akidah dari ideologi kapitalisme. Dengan akidahnya saja telah terbukti gagal memajukan bangsa, apakah kita masih mau bernaung di bawah ideologi gagal ini?

SOLUSI

Inilah akar masalahnya, karena Indonesia menerapkan kapitalisme sebagai sistem pengatur dalam negara. Untuk menghindarkan negeri ini dari keruntuhan yang semakin mungkin terjadi, maka kita harus membabat akar masalahnya. Kita harus melakukan perubahan sistem untuk menyelamatkan generasi muda dari kehancuran, dan dengan sendirinya negeri ini akan terhindar dari keruntuhan. Nyata sudah sistem kapitalisme sudah gagal menjadi solusi. Dan kini, satu-satunya solusi atas semua permasalahan adalah sistem Islam. Sistem Islam, di mana dalam pendidikan sendiri tak mungkin memakai sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Pelajar bukan saja diberikan pendidikan berupa ilmu tapi juga dididik kepribadiannya dan diperkuat imannya, sehingga mencetak pelajar yang menggunakan potensi akal dan iman secara maksimal. Dengan begitu jauhlah pelajar dari tawuran, narkoba, seks bebas, dsb. Mengantungi generasi muda yang sarat ilmu dan tegak imannya, estafet bisa tersalurkan dan masa depan bisa terselamatkan, insya Allah.

Saatnya membebaskan diri dari cengkraman krisis moral. Saatnya menyelamatkan kami dari keruntuhan. Saatnya berjuang untuk membuang sistem gagal itu dan memperjuangkan Islam. Tiada kemuliaan tanpa Islam. Islam takkan sempurna tanpa diterapkan sebagai sebuah sistem yang mengatur setiap aspek kehidupan secara menyeluruh. Aturan Islam takkan berfungsi tanpa ditegakkan dalam sebuah institusi kenegaraan, yaitu Khilafah Rasyidah Islamiyah. Wallaahu a’lam bish-shawaab.*/islampos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s